Jantung Jakarta menjadi saksi eksistensi Batak Muslim. Ratusan anggota Ukhuwah Batak Muslim (UBM) memadati Bundaran HI dalam Fun Walk ke-3, Minggu (11/10/2026), mengirimkan pesan simbolis bahwa ukhuwah dan toleransi tetap hidup melampaui batas geografis.

Dimulai pukul 07.00 WIB, sekitar 150 peserta yang mengenakan jersey khas Ukhuwah Batak Muslim (UBM) melangkah serentak mengitari bundaran. Namun, di balik keseruan olahraga pagi ini, tersimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas fisik. Kegiatan ini menjadi sebuah pernyataan simbolik bahwa komunitas Batak Muslim bukan hanya “penumpang” di ibu kota, melainkan bagian integral yang aktif, terorganisir, dan berkontribusi dalam wajah keberagaman Jakarta.

Tur Asia Tenggara

Peserta yang berasal dari berbagai titik mulai dari Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor, Bekasi, hingga Cikarang dan Cikampek menunjukkan bahwa UBM telah berhasil membangun jejaring sosial yang kuat melampaui batas administratif. Ini bukan lagi sekadar perkumpulan berdasarkan kesamaan etnis (primordialisme), melainkan sebuah gerakan sosial yang mengikat simpul-simpul umat yang tersebar di kawasan penyangga ibu kota (Jabodetabek) menjadi satu kekuatan kolektif.

Ketua Umum UBM, Dr. Marhaban Sigalingging, menegaskan bahwa momentum ini adalah tentang “menjemput bola” dalam menjaga silaturahmi.

“Melalui Fun Walk ini kami ingin memperkuat persaudaraan, menjaga kekompakan, serta membangun semangat kebersamaan di tengah keberagaman. Kami berharap UBM semakin bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara,” ujar Dr. Marhaban di sela-sela kegiatan.

Kegiatan ini juga patut dibaca sebagai upaya soft-diplomacy budaya. Di tengah masyarakat yang kerap kali terkotak-kotak, kehadiran UBM di ruang terbuka seperti Bundaran HI mengirimkan pesan toleransi dan inklusivitas. Mereka menampilkan wajah Batak Muslim yang moderat, sehat, dan cinta tanah air, sekaligus mematahkan stereotip yang mungkin masih melekat di sebagian benak masyarakat luas.

BACA JUGA  Puncak Kemarau Agustus

UBM tidak hanya berfungsi sebagai wadah hobi, tetapi bertransformasi menjadi organisasi yang menjunjung nilai gotong royong. Integrasi antara nilai keislaman dan kearifan lokal Batak yang ditampilkan dalam kegiatan ini menawarkan model kerukunan yang relevan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Antusiasme peserta yang tinggi menjadi modal sosial yang berharga. Namun, tantangan ke depan bagi UBM adalah bagaimana meneruskan energi “euforia” pagi ini menjadi program-program pemberdayaan yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat luas, bukan hanya internal anggota.

Semoga Ukhuwah Batak Muslim tidak hanya berhenti pada langkah kaki di aspal Bundaran HI, tetapi terus melangkah maju menjadi pilar yang kokoh dalam pembangunan bangsa. Diharapkan UBM dapat terus menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan, melahirkan inovasi sosial, dan membuktikan bahwa identitas etnis dan agama dapat berjalan beriringan dalam bingkai kontribusi nyata untuk Indonesia yang lebih sejahtera.